Liga Internasional,- Timnas Italia memasuki fase baru dalam perjalanan mereka ketika menghadapi Belgia pada pertandingan pembuka UEFA Nations League 2026/27. Pertandingan yang digelar di Stadio Olimpico, Roma, Jumat, 25 September 2026, bukan sekadar duel dua negara besar Eropa.
Laga tersebut menjadi titik awal bagi dua proyek baru setelah pergantian pelatih. Italia kembali mempercayakan kursi pelatih kepada Roberto Mancini, sementara Belgia menunjuk Mark van Bommel sebagai nakhoda baru The Red Devils.
Situasi tersebut membuat pertandingan ini memiliki daya tarik tersendiri. Kedua tim datang dengan target membangun kembali identitas permainan setelah melalui periode yang penuh perubahan.
Bagi Italia, kembalinya Mancini menjadi salah satu keputusan besar federasi. Pelatih berusia 61 tahun tersebut sebelumnya menangani Gli Azzurri pada periode 2018 hingga 2023 dan membawa Italia meraih gelar juara Euro 2020.
FIGC kemudian kembali menunjuk Mancini pada Juli 2026. Ia mendapatkan tugas untuk memimpin proses pembangunan kembali tim nasional Italia setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026.
Kini, Mancini kembali ke tempat yang pernah membawanya mencapai salah satu kesuksesan terbesar dalam karier kepelatihannya.
Namun, situasinya kali ini berbeda.
Mancini tidak sekadar dituntut meraih kemenangan. Ia juga harus menemukan fondasi baru bagi Italia. Hal itu terlihat dari keputusan memasukkan sejumlah pemain baru ke dalam skuad.
Dalam daftar 34 pemain yang diumumkan untuk pertandingan Nations League, terdapat sembilan pemain yang belum pernah mendapatkan caps bersama tim senior Italia. Beberapa nama yang mendapat kesempatan antara lain Michael Kayode, Eddie Kwaidoo, Samuele Inacio, dan Mohamed Ali Zoma.
Langkah tersebut menunjukkan adanya upaya untuk menyegarkan komposisi Gli Azzurri.
Mancini harus memadukan pemain berpengalaman dengan generasi baru. Tantangannya adalah membangun keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan proyek jangka panjang.
Pertandingan melawan Belgia menjadi ujian pertama dari proses tersebut.
Belgia Juga Memulai Era Baru
Di sisi lain, Belgia datang ke Roma dengan cerita yang hampir serupa.
The Red Devils kini berada di bawah kendali Mark van Bommel. Mantan gelandang timnas Belanda tersebut resmi ditunjuk sebagai pelatih baru Belgia dan memulai masa kerjanya pada 15 Agustus 2026. Ia mendapatkan kontrak hingga Euro 2028.
Van Bommel bukan sosok yang asing dengan sepak bola Italia.
Ia pernah bermain untuk AC Milan dan menjadi bagian dari tim yang meraih gelar Serie A. Pengalaman tersebut membuat pertandingan pertamanya bersama Belgia melawan Italia memiliki latar belakang yang menarik.
Namun, tugas Van Bommel tidak sederhana.
Belgia juga sedang mencari bentuk baru setelah tersingkir dari Piala Dunia 2026 di tangan Spanyol pada babak perempat final. Pergantian pelatih kemudian menjadi bagian dari usaha federasi untuk membawa tim memasuki periode berikutnya.
Van Bommel sendiri sudah menyampaikan gambaran mengenai pendekatan yang ingin diterapkannya.
Menjelang pertandingan, ia menyebut duel melawan Italia sebagai tantangan besar. Pelatih tersebut juga menegaskan keinginannya agar Belgia mampu menguasai permainan sekaligus mengejar kemenangan.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Belgia tidak datang ke Roma hanya untuk bertahan.
Mereka ingin menjadikan pertandingan pertama di bawah Van Bommel sebagai kesempatan untuk mulai memperkenalkan karakter permainan yang baru.
Mancini dan Van Bommel Punya Misi Berbeda
Meski sama-sama memulai era baru, Mancini dan Van Bommel menghadapi kebutuhan yang tidak sepenuhnya sama.
Mancini harus membangun kembali kepercayaan terhadap Italia setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026. Sementara itu, Van Bommel berusaha membawa Belgia memasuki periode berikutnya setelah berakhirnya perjalanan mereka di Piala Dunia.
Keduanya juga harus bekerja dengan waktu persiapan yang relatif singkat.
Karena itu, laga pertama tidak bisa langsung dijadikan ukuran keseluruhan proyek yang sedang dibangun. Namun, pertandingan ini tetap penting karena dapat memberikan gambaran awal mengenai pendekatan masing-masing pelatih.
Bagi Mancini, publik akan melihat apakah pengalaman periode pertamanya bisa kembali diterapkan dalam skuad yang kini memiliki komposisi berbeda.
Sementara bagi Van Bommel, perhatian akan tertuju pada bagaimana ia menerjemahkan filosofi permainannya ke dalam tim yang masih dihuni sejumlah pemain senior.
Salah satu pemain yang menjadi perhatian adalah Kevin De Bruyne.
Gelandang berusia 35 tahun itu masih memilih melanjutkan karier internasional bersama Belgia. De Bruyne menyatakan dirinya belum mempertimbangkan pensiun dari tim nasional setelah Piala Dunia dan siap terus bermain selama masih memiliki motivasi serta kondisi fisik yang mendukung.
Keberadaan De Bruyne memberikan pengalaman penting bagi Belgia dalam masa transisi.
Ia merupakan salah satu pemain terakhir dari generasi emas Belgia yang masih memperkuat tim nasional. Dengan 124 caps sejak debut internasional pada 2010, De Bruyne juga memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi pertandingan besar.
Kombinasi pemain berpengalaman dan generasi baru tersebut menjadi bagian penting dari proyek Van Bommel.
Stadio Olimpico Menjadi Titik Awal
Pertandingan Italia kontra Belgia juga memiliki makna khusus bagi tuan rumah.
Stadio Olimpico menjadi tempat Mancini memulai periode keduanya sebagai pelatih Italia. Stadion tersebut memiliki hubungan kuat dengan perjalanan Gli Azzurri, terutama karena menjadi salah satu bagian dari kisah menuju keberhasilan Italia meraih Euro 2020.
Kali ini, Mancini kembali ke tempat tersebut dengan tantangan berbeda.
Italia sedang mencoba membangun kembali tim setelah periode sulit. Karena itu, kemenangan atas Belgia akan menjadi hasil yang penting secara momentum, meskipun perjalanan panjang Nations League masih menanti.
FIGC mencatat pertandingan melawan Belgia merupakan laga pembuka dari rangkaian empat pertandingan Italia dalam waktu 11 hari. Artinya, Mancini juga harus mempertimbangkan rotasi dan kebugaran pemain dalam menjalani periode padat tersebut.
Kapten Italia Gianluigi Donnarumma turut menggambarkan situasi tersebut sebagai awal dari siklus baru. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pemain Italia memahami adanya proses pembangunan yang sedang dimulai.
Bukan Sekadar Mengejar Tiga Poin
Italia dan Belgia memang sama-sama membutuhkan hasil positif. Namun, pertandingan ini memiliki dimensi yang lebih besar daripada sekadar tiga poin.
Mancini ingin mengetahui sejauh mana pemain-pemain barunya mampu menjalankan rencana permainan. Van Bommel juga ingin melihat respons anak asuhnya terhadap filosofi yang sedang diperkenalkan.
Pertandingan ini menjadi kesempatan pertama bagi kedua pelatih untuk mendapatkan gambaran nyata dari tim yang mereka bangun.
Di atas kertas, pengalaman Italia dan Belgia membuat duel ini menarik. Namun, kondisi kedua tim yang sedang mengalami transisi menjadikan pertandingan semakin sulit diprediksi dari sisi permainan.
Italia memiliki keuntungan bermain di kandang. Belgia, di sisi lain, membawa pengalaman pemain senior seperti De Bruyne dan datang dengan ambisi untuk memainkan sepak bola yang lebih dominan.
Pada akhirnya, hasil di Stadio Olimpico akan menjadi catatan pertama dalam perjalanan dua pelatih tersebut.
Bagi Mancini, laga ini menjadi kesempatan untuk membuka kembali babak keduanya bersama Italia dengan fondasi yang lebih segar. Bagi Van Bommel, pertandingan ini menjadi langkah pertama untuk memperkenalkan wajah baru Belgia.
Satu hal yang jelas, Italia dan Belgia tidak hanya bertanding untuk membuka kampanye Nations League.
Keduanya sedang membuka halaman baru.
Dan di tengah proses tersebut, Stadio Olimpico menjadi panggung pertama tempat Mancini dan Van Bommel menguji proyek masing-masing.







